top of page

Kumpulan di SoE

Arsip Orang SoE

29 Mar 2025

Sesuai dengan namanya, acara ini merupakan sebuah acara untuk berkumpul bersama, antara orang-orang yang sama-sama bergiat dalam kerja-kerja pengarsipan tentang SoE. Kolektif Arsip Orang SoE akan menceritakan kerja-kerjanya dalam mengarsipkan sejarah kota, sedang Adelina Djami, akan menceritakan tentang bagaimana menjaga ruang hijau lewat Kebun Warga di tengah kota SoE. 

Kumpulan di SoE dilaksanakan pada hari Sabtu, 29 Maret 2025, di Café Bethania Kampung Baru, SoE. Acara ini merupakan kolaborasi antara BClassFSP dengan Arsip Orang SoE. BClassFSP merupakan sebuah program pengembangan anak muda di Kota SoE yang bernaung di bawah Forum SoE Peduli (FSP) yang melakukan beberapa kegiatan sosial, diskusi, dan belajar bersama. Isu-isu yang diangkat pun beragam, mulai dari belajar bahasa Inggris, berburu beasiswa, lingkungan, maupun kesehatan reproduksi remaja. BClassFSP berdiri sejak 2017.

Acara ini dibagi dalam tiga (3) sesi. Sesi pertama adalah sesi berbagi dari Adelina Djami. Adelina merupakan petani dari Kelompok Tani (poktan) Gereja Tebes Kobelete, sekaligus calon vikaris yang melayani di gereja tersebut. Dalam pemaparannya, Adelina menceritakan tentang bagaimana kelompok tani adalah wujud dari gereja yang merespon kebutuhan jemaat. Pangan sebagai sebuah kebutuhan mendasar dan krusial bagi warga, kemudian menjadi isu yang diperhatikan oleh gereja. Gereja menjadi motor yang menggerakkan bukan hanya hal-hal rohani, tetapi juga isu-isu yang muncul pada tubuh jemaatnya. 

Kelompok Tani ini dikelola secara kolektif bersama warga juga menggandeng dinas terkait. Dalam perjalanannya, dinas terkait turut membantu mengecek kesuburan tanah, memberikan pelatihan-pelatihan, dan sosialisasi kepada pada petani. Anggota dari kelompok tani Tebes kurang lebih 30-an orang, yang terdiri dari berbagai latar belakang. Ada orang tua, anak muda, laki-laki maupun perempuan. Kebun warga ini, selain berusaha memenuhi kebutuhan nutrisi dari para jemaatnya, juga merupakan sebuah aktivitas hiburan bagi para jemaat yang memasuki masa lanjut usia. Hiburan, sebab orang-orang tua kemudian memiliki aktivitas lain sehabis pensiun, seperti mengurus kebun warga. Dengan begitu, secara tidak langsung, melalui kegiatan kebun warga, gereja turut berperan dalam menjaga kesejahteraan jiwa dari para jemaatnya. 

Dari awal inisiatif ini muncul, gereja bersama para jemaat berkomitmen untuk menjadikan kebun warga ini sebagai kebun yang menerapkan model pertanian yang ramah lingkungan. Salah satu upaya yang dilakukan ialah menggunakan pestisida alami dari kulit bawang putih. Dengan menggunakan bawang merah dan bawang putih berarti kebun warga ini juga berupaya untuk memanfaatkan bahan-bahan yang dekat dengan rumah untuk meminimalisir pengeluaran. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa apa yang dilakukan Kelompok Tani Gereja Tebes Kobelete juga tidak terlepas dari kerja-kerja pengarsipan, sebab, ia menerapkan hal-hal yang ada di sekitar kita. Yang tidak sulit ditemui. Yang dekat dengan keseharian kita, yang adalah pengetahuan-pengetahuan lokal. 

Hasil dari kebun warga ini kemudian dinikmati bersama. Tidak hanya bagi para lansia, atau orang dewasa yang menanam, tetapi juga dibagikan kepada anak-anak PAR setiap kali berkegiatan. Meskipun air sering menjadi kendala dalam proses menanam, namun semangat mereka dalam menanam terus membara. Adelina kemudian melanjutkan, “Saya pikir, gereja-gereja di SoE sekarang sudah mulai harus bertani. Gereja yang bertani, adalah gereja yang berdaya, memberdayakan, adalah wujud syukur yang nyata”.

Sementara itu, Kolektif Arsip Orang SoE menceritakan tentang kerja-kerja pengarsipannya. Selayang pandang tentang bagaimana kolektif ini terbentuk dan apa saja yang sudah dilakukannya selama dua tahun terakhir. Arsip Orang SoE juga membagikan tentang apa yang menjadi topik Telusur Arsipnya selama setahun ke depan. Menarik, bahwa kita jadi melihat bahwa pengarsipan dilakukan tidak hanya dalam isu seputar perjalanan kota tetapi juga isu seputar pertanian. 

Usai sesi berbagi bersama, kegiatan ditutup dengan membuat zine, yang berisikan tentang usulan kebijakan yang bisa kita sampaikan kepada para pemegang kebijakan. Usulan ini tidak terbatas pada pembicaraan perihal pertanian maupun arsip, tetapi kita bisa bersuara sebagai apapun. Sebagai mahasiswa, seniman, ibu, pemerhati teknologi, pegiat komunitas,  maupun sebagai warga sipil biasa. Karena ragam latar belakang ini, maka usulan yang dimunculkan juga beragam. Misalnya, seorang mahasiswa pendidikan yang menginginkan agar pembelajaran tentang kota SoE dimasukkan dalam kurikulum-kurikulum sekolah, agar anak-anak dari SoE tidak lagi kesulitan ketika ditanyai tentang identitas kotanya. Tentang asal daerahnya. Atau sebagai seorang pemerhati teknologi, bagaimana kemudian teknologi dimanfaatkan untuk menjadikan SoE sebagai kota yang mengikuti perkembangan teknologi, tetapi dekat dengan alam, budaya, dan sejarah. Kita tidak buta teknologi, tetapi juga tidak terbelenggu olehnya. Nilai dan semangat gotong royong tetap dipertahankan.

bottom of page